SUSU CAIR/ UHT/ PASTEURISASI LEBIH BAIK UNTUK DIKONSUMSI

Maret 12, 2010 pukul 8:21 am | Ditulis dalam News & Opini | Tinggalkan komentar

Susu adalah salah satu jenis minuman yang masih dianggap mahal dan berkelas di Indonesia, baik dari masa Indonesia masih makmur maupun krisis ekonomi saat ini. Hal inilah yang menyebabkan mengkonsumsi susu sebagai minuman sehat BELUM membudaya di negara tercinta ini. Padahal, lebih dari 80% warga dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk cair, dan dipastikan Indonesia tak masuk di dalamnya. Selain tingkat konsumsi susu yang rendah, masayarakat Indonesia lebih mengenal dan mengkonsumsi susu kental manis karena harganya yang murah dan rasanya yang manis.

Selain tingkat konsumsi yang masih rendah, preferensi (pilihan) masyarakat akan jenis susu yang dikonsumsi juga menuntut koreksi. Senyampang persoalan tingkat konsumsi yang baru di titik 9 kg/kap/th alias 1 gelas per minggu, alias 20 tetes per hari, ada yang keliru pula dari cara masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi susu. Masyarakat Indonesia lebih mengenal susu bubuk ketimbang susu segar atau susu cair. Lebih dari 90% warga negeri ini terbiasa mengkonsumsi susu berupa bubuk atau kental manis, dan tak lebih dari 10% yang kesehariannya minum dalam bentuk cair. Padahal jamaknya, masyarakat dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk segar atau susu cair, sebagaimana sering tampak dalam tayangan film-film asal negara-negara maju.

“Lebih dari 80% warga dunia mengkonsumsi susu dalam bentuk segar, yang Indonesia dipastikan tidak masuk di dalamnya. Masyarakat Indonesia jauh lebih mengenal susu olahan, berupa bubuk atau kental manis.” Demikian komentar Dedi Setiadi, Ketua Umum GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) ditemui TROBOS di Bandung Juni lalu. Fakta ini disesalkan Dedi, dan menurutnya harus diluruskan. Pasalnya, mengkonsumsi susu segar bisa dipastikan memberikan keuntungan yang lebih baik ketimbang susu olahan. Ia beralasan, dari asalnya susu diciptakan dengan keunggulan kaya nutrisi yang tidak dimiliki pangan lainnya, sehingga dengan manipulasi berlebihan justru beberapa manfaat akan tereduksi. Minum susu segar adalah pilihan paling tepat untuk mendapatkan kesempurnaan manfaat dari segelas susu.

Titik Lemah Susu Bubuk
Menurut Dedi, susu bubuk hasil pengolahan pabrik yang banyak beredar di pasaran, bahan baku utamanya adalah susu impor. Disebut Dedi, susu impor bukanlah susu komplit melainkan susu yang sudah dihilangkan butter fat-nya (lemak), “Namanya skim milk powder (susu bubuk skim).” Dalam pengolahan menjadi susu bubuk ditambahkan sebagai pengganti adalah lemak dari minyak sawit (palm oil). Sehingga lemaknya adalah lemak nabati bukan lagi lemak hewani.

Konsumsi susu bubuk memiliki titik kelemahan utama dalam standar penyajian. Terdapat beberapa titik kritis yang berpotensi menjadikan segelas susu siap minumnya tidak ekuivalen dengan susu segar. Kesalahan penyajian dapat disebabkan karena tingkat pemahaman konsumen yang masih kurang, atau dapat pula disebabkan kesengajaan, misalnya penghematan, proses menyimpan dan penyajian yang kurang higienis.

Budaya minum susu masyarakat harus diubah secara gradual,” ujar Ali. Tak hanya alasan susu bubuk memiliki nilai minus sebagaimana dijelaskannya, tapi juga karena minum susu segar akan memberikan keuntungan dari aspek harga. Selama ini susu oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebagai barang mewah sehingga tak terbeli. Itu karena yang ada dalam alam bawah sadar adalah susu olahan yang tersedia di pasaran dalam kemasan mahal. Tidak demikian apabila susu segar. Susu segar dipastikan lebih terjangkau.

Mengubah budaya memang tidak mudah, sosialisasi yang mahal dan kondisi ekonomi yang masih labil merupakan faktor yang dapat menghambat perubahan budaya masyarakat kita. Namun, tindakan awal yang murah adalah sosialisasi melalui puskesmas, posyandu, rumah sakit maupun sekolah-sekolah yang merupakan media sosialisasi sekunder yang mengena langsung baik pada orang tua maupun anak-anak sebagai generasi masa depan yang harus diutamakan kualitas individunya. Adanya stimulan-stimulan berupa program menarik yang diadakan oleh pemerintah bekerja sama dengan produsen susu segar/UHT.

Memproduksi susu cair tidaklah sulit, demikian Dedi yakin. Semua koperasi primer mampu memproduksi susu cair, “Masalahnya, pasarnya masih kecil karena faktor budaya tadi.” Maka gagasan sebuah program yang memiliki dampak terciptanya pasar menjadi keniscayaan. “Pemerintah membentuk captive market, koperasi menyediakan produk,” ia mengutarakan gagasan.

Semoga bisa menjadi saran konstruktif buat orang tua yang selektif memilih makanan dan minuman sehat bagi keluarga tercintanya..Selamat mencoba.. :)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.